Selasa, 29 November 2011

Menyulap Sekolah Pinggiran dengan Taman Refreshing Area

0 komentar
Kawasan karst di Pracimantoro Kabupaten Wonogiri – dengan ciri khas beragam gua-gua dan panorama alam yang indah ini - kelak akan dijadikan sebagai tempat penelitian ilmiah dan wisata alam yang tiada duanya di Indonesia, bahkan di dunia. Tempat-tempat itu sangat bagus untuk dikunjungi oleh kalangan peneliti, wisatawan, dan pecinta alam.

Terinspirasi oleh adanya kawasan karst dengan beragam gua-gua tersebut, SMP Negeri 3 Pracimantoro memandang perlu untuk membuat miniatur ‘Gua Tembus’ di taman sekolah. Kebetulan di sudut sekolah terdapat areal yang bertebing dan saat itu kurang terurus karena banyak semak belukar.

Dengan desain tata arsitektur taman, dibuatlah pondasi kolam, pagar taman, dan sengkedan tanah di kawasan miring. Taman sekolah ini dilengkapi dengan berbagai tanaman hias, kolam ikan, gasebo, relief karst, dan aneka binatang tiruan. Setelah dua bulan dibangun, ternyata hasilnya cukup menakjubkan. Taman indah sebagai taman baca bagi para siswa ini diberi nama kawasan “Refreshing Area.”

Kawasan sekolah ini sekilas mirip Taman Kyai Langgeng di Magelang karena terdapat air terjun dengan tujuh tangga yang bergemericik air. Meski rawan kekeringan di musim kemarau, hebatnya SMP ini mampu menyiasati dengan penampungan air resapan di kolam. Air kolam bisa diputar kembali ke puncak tebing sebagai air terjun dengan peralatan dab listrik.

Bangunan binatang tiruan seperti gajah, buaya, harimau, jerapah, katak, dan burung bangau turut menghiasi indahnya kawasan “Refreshing Area” ini. Bagi anak-anak, pemandangan seperti ini sangat menyenangkan sebagai media pengenalan keanekaragaman binatang. Begitu pula dalam pembelajaran IPA Biologi, keanekaragaman binatang seperti ini lebih mendekatkan jarak antara sekolah dengan kebun binatang yang adanya terbatas di beberapa kota.

Kolam yang dibangun ini sesungguhnya berfungsi sebagai resapan air di musim penghujan. Pemanfaatannya ternyata bisa multifungsi di antaranya juga sebagai tempat budidaya ikan lele. Hal ini mendukung program sekolah dalam menanamkan jiwa kewirausahaan bagi peserta didik. Anak-anak desa yang awam tentang beternak lele bisa belajar di sekolah dengan dibimbing oleh guru. Prinsipnya, jangan ada tanah sejengkal pun yang tidak dimanfaatkan secara produktif.

0 komentar:

Posting Komentar